Standard Post

PKBNEWS - Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo yang merenggut nyawa petugas menjadi duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sebagai bentuk kepedulian, kader PKB Kabupaten Probolinggo mendatangi rumah keluarga korban meninggal dunia untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Perwakilan Kader PKB Kabupaten Probolinggo, langsung menemui keluarga korban korban yang kehilangan anggota keluarganya saat terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Dalam kunjungan tersebut, Ketua Fraksi PKB Kabupaten Probolinggo Muchlis menemui keluarga korban untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan santunan serta penguatan kepada keluarga yang tengah berduka.

“Musibah ini bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga duka kita bersama. Kami datang untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Muchlis.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa upaya menjaga kelestarian alam memiliki risiko besar, terutama bagi petugas yang berada di garis depan penanganan bencana.

“Kami berharap keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Pengorbanan para petugas ini harus menjadi perhatian bersama, termasuk pentingnya keselamatan mereka dalam menjalankan tugas,” katanya.

Di sisi lain, Muhlis berharap tragedi karhutla tersebut tidak hanya berhenti sebagai kabar duka, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, khususnya kawasan hutan. Pesan itu sejalan dengan gagasan tobat ekologi yang digaungkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Gagasan tersebut mengajak masyarakat untuk mengevaluasi perilaku terhadap alam dan memperbaiki cara memperlakukan lingkungan demi keberlanjutan kehidupan.

“Menjaga lingkungan tidak bisa hanya dilakukan ketika bencana datang. Kesadaran untuk merawat alam harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perilaku masyarakat hingga kebijakan pembangunan,” ungkapnya.

Ia tegaskan, PKB menilai hutan bukan sekadar kawasan hijau, melainkan bagian penting dari keseimbangan ekosistem dan sumber kehidupan masyarakat. Kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko bencana sehingga pencegahan harus menjadi perhatian bersama.

“Semangat tobat ekologi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menjaga hutan, mencegah kerusakan lingkungan, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran merupakan tanggung jawab bersama,” lanjutnya.

Muhlis berharap tragedi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap manusia yang bertugas menjaganya.

Duka atas meninggalnya petugas karhutla diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian yang lebih luas terhadap kelestarian alam. Sebab, menjaga hutan bukan hanya urusan hari ini, melainkan juga tanggung jawab untuk mewariskan lingkungan yang lestari kepada generasi mendatang.