Belajar dari Taiwan, DPR Ingatkan Bekal Skill dan Sosial PMI Harus Diperkuat
PKBNEWS - Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina mendorong pemerintah menjadikan fenomena penolakan besar masyarakat Taiwan terhadap rencana masuknya pekerja migran asal India sebagai momentum penting untuk membenahi sistem penempatan dan pendidikan calon pekerja migran Indonesia (PMI).
Arzeti menilai, protes publik di Taiwan menjadi peringatan nyata bahwa keberhasilan penempatan pekerja migran tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga kesiapan sosial, budaya, dan komunikasi antarbangsa.
“Protes besar warga Taiwan itu harus dijadikan pelajaran bagi Indonesia untuk benar-benar mempersiapkan skema pemberangkatan PMI ke negara manapun secara maksimal,” ujar Arzeti di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan bahwa pembekalan keterampilan kerja saja tidak cukup. Pemerintah perlu memastikan calon PMI memiliki kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, serta memahami adat dan budaya negara tujuan.
“Bekali skill saja tidak cukup, tapi juga kemampuan berbaur, bersosialisasi, dan beradaptasi dengan budaya lokal harus ditekankan,” tambahnya.
Sebagaimana diketahui, rencana pemerintah Taiwan mendatangkan pekerja migran dari India memicu gelombang penolakan publik yang cukup besar. Bahkan, petisi penolakan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda tangan dari masyarakat.
Penolakan ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat terkait kesiapan kebijakan, potensi dampak sosial, serta kurangnya komunikasi pemerintah kepada publik.
Arzeti menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya tata kelola migrasi tenaga kerja yang transparan, akuntabel, dan berbasis kesiapan menyeluruh, baik dari sisi negara pengirim maupun penerima.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelatihan PMI, termasuk penguatan pendidikan karakter, pemahaman lintas budaya, serta peningkatan kualitas pengawasan penempatan tenaga kerja ke luar negeri.
“Ini momentum bagi Indonesia untuk berbenah. Kita harus memastikan PMI tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga siap secara sosial dan budaya agar diterima dengan baik di negara tujuan,” tutupnya.







TERKAIT