Standard Post

PKBNEWS - Produksi kopi Arabika di kawasan Manglayang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mencapai sekitar 50 ton pada 2026. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 14 ton yang terserap untuk diolah menjadi produk, sementara 36 ton lainnya masih dijual dalam bentuk mentah kepada tengkulak atau bandar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar dalam kunjungannya ke Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia yang dikembangkan Yayasan Pemuda Hijrah, Selasa (06/10/2026) kemarin.

Menurut Menko Muhaimin, selisih tersebut menunjukkan bahwa potensi produksi kopi Manglayang belum sepenuhnya diikuti dengan kemampuan pengolahan dan penciptaan nilai tambah. Karena itu, penguatan ekosistem kopi perlu diarahkan agar semakin banyak hasil panen dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan.

“Kopi Manglayang ini punya potensi besar. Dari sekitar 50 ton produksi, baru 14 ton yang diolah, sementara 36 ton masih dijual mentah. Ini menunjukkan ruang nilai tambahnya masih sangat besar, yang perlu kita dorong adalah bagaimana nilai tambah tersebut bisa lebih banyak kembali kepada petani,” ujar Menko Muhaimin.

Perkebunan kopi Arabika yang dikembangkan di kawasan tersebut saat ini memiliki luas sekitar 12,7 hektare dan telah berproduksi. Pengembangan kebun juga terus dilakukan melalui tambahan sekitar 2 hektare lahan baru yang telah ditanami kopi Arabika.

Pengelolaan perkebunan dilakukan bersama Kelompok Tani Putra Manglayang yang beranggotakan 31 orang. Pengembangan kopi dilakukan dengan pendekatan agroforestri, yakni memadukan tanaman kopi dengan tanaman kayu dan tanaman produktif lainnya. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menjaga kesuburan tanah, mencegah erosi, meningkatkan hasil petani, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Menko Muhaimin mengatakan, tantangan utama bukan hanya meningkatkan produksi kopi, tetapi juga memastikan tersedianya kapasitas untuk menyerap produksi tersebut ke dalam rantai pengolahan. Dengan produksi sekitar 50 ton dan 36 ton masih dijual mentah, peningkatan kapasitas pascapanen dan pengolahan menjadi kebutuhan penting untuk memperbesar manfaat ekonomi yang diterima petani.

“Jadi jangan hanya berpikir bagaimana produksinya bertambah. Kalau produksi bertambah tetapi sebagian besar masih keluar sebagai bahan mentah, nilai yang dinikmati petani juga belum maksimal. Kita perlu memperkuat dari pascapanen, pengolahan, penyimpanan, branding sampai akses pasarnya,” katanya.

Pengembangan ekosistem kopi di Manglayang sendiri telah berjalan sekitar tiga tahun melalui program Coffee Garung. Program tersebut mengembangkan kopi berbasis agroforestri dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya, pengolahan pascapanen, roasting hingga pemasaran, dengan melibatkan kelompok tani, pemuda, dan perempuan tani.

Sejumlah proses pengolahan telah dilakukan untuk meningkatkan nilai jual kopi, antara lain pulping, fermentasi, penjemuran, hulling, dan sortasi. Dari proses tersebut dikembangkan produk berupa greenbean dan roastbean.

Namun, capaian pengolahan tersebut masih belum mampu menyerap seluruh hasil produksi. Dari sekitar 50 ton produksi pada 2026, baru sekitar 14 ton yang masuk ke proses pengolahan, atau kurang dari sepertiga total produksi. Sementara sekitar 36 ton atau lebih dari dua pertiga produksi masih dijual dalam bentuk mentah kepada tengkulak atau bandar.

Menurut Menko Muhaimin, angka tersebut sekaligus menjadi peluang untuk memperbesar skala usaha pengolahan kopi Manglayang. Penguatan kapasitas pengolahan tidak hanya akan meningkatkan bentuk dan kualitas produk yang dihasilkan, tetapi juga membuka peluang bagi petani untuk mendapatkan nilai ekonomi lebih besar dari komoditas yang mereka produksi.

Pengembangan produk kopi lokal Manglayang saat ini telah mencakup greenbean, roastbean, dan kopi bubuk. Produk tersebut berasal dari kopi petani lokal dan dikembangkan melalui sistem agroforestri serta pengolahan yang terkontrol.

Karena itu, pengembangan ke depan diarahkan pada penguatan budidaya dan pascapanen, peningkatan kapasitas pengolahan dan kualitas produk, serta penguatan branding dan akses pasar. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan penyerapan hasil panen sehingga porsi kopi yang diolah menjadi produk bernilai tambah terus meningkat.

Menko Muhaimin menegaskan bahwa penguatan rantai nilai kopi harus menempatkan petani sebagai bagian penting dari proses penciptaan nilai.

“Kita ingin produksi kopi semakin besar, tetapi yang lebih penting adalah semakin besar pula manfaat ekonominya yang diterima petani. Jangan sampai produksi meningkat, tetapi nilai tambahnya justru dinikmati di luar wilayah produksi,” ujarnya.