Hanya PKB yang Bisa Masuk Lima Besar
PKBNews - DIREKTUR Eksekutif Indometer (Barometer Politik Indonesia) Leonard memastikan hanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mampu menembus posisi lima besar.
"Partai-partai nasionalis cenderung mengalami peningkatan dibanding partai-partai berbasis Islam. Hanya PKB yang hanya menembus posisi lima besar," katanya, kemarin.
Partai-partai berbasiskan Islam seperti PKS, PAN dan PPP, kata Leonard, hanya mampu menempati posisi papan tengah. Terakhir PBB yang mengklaim sebagai pewaris semangat Masyumi gagal meraih kursi di parlemen.
Temuan survei Indometer menunjukkan elektabilitas PDIP naik (25,5 persen), demikian pula dengan Gerindra (14,8 persen). Hanya Demokrat yang turun elektabilitasnya (5,9 persen).
"Di antara partai berbasis Islam, PKB mengalami kenaikan (9,2 persen) dan mempertahankan posisi di lima besar. Pada papan tengah, hanya PKS yang naik elektabilitasnya (3,9 persen). PAN turun elektabilitasnya (3,4 persen), begitu pula dengan PPP (3,3 persen). PBB tetap berada pada papan bawah (0,8 persen) dan diprediksi kembali gagal melenggang ke Senayan," ujarnya.
Dia menambahkan, partai-partai nasionalis lainnya menempati posisi papan tengah, seperti Nasdem (4,3 persen) dan Partai Solidaritas Indonesia (3,8 persen). Lalu ada Perindo (2,0 persen) dan Hanura (1,2 persen). Sisanya terlempar ke papan bawah, yaitu PKPI (0,7 persen), Berkarya (0,6 persen), dan Garuda (0,1 persen). Seperti halnya PBB, partai-partai ini pun sulit untuk dapat lolos ambang batas parlemen.
"Pasangan calon (paslon) Jokowi-Maruf sebagai kombinasi nasionalis dan relijius (Islam) unggul dengan elektabilitas 55,6 persen," kata Leonard.
Prabowo-Sandi tertinggal dengan raihan elektabilitas 32,9 persen. Menariknya, Jokowi justru kerap menjadi korban serangan hoaks anti-Islam. Sebaliknya dengan Prabowo yang dituduh mengakomodasi kepentingan kelompok-kelompok pengusung ideologi khilafah.
"Wajar jika mantan presiden SBY melancarkan kritik terhadap kampanye akbar Prabowo-Sandi yang dinilai eksklusif," katanya.
Dia menambahkan, "Kubu petahana Jokowi-Ma`ruf lebih elegan dalam mengakomodasi representasi ideologi nasionalis dan Islam."
Survei Indometer dilakukan pada 26 Maret 2 April 2019, dengan jumlah responden 1280 orang mencakup seluruh provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error 2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.







TERKAIT