Cak Imin Dukung Pendirian Monumen Gus Dur
Jakarta - Momentum peringatan Imlek selalu mengingatkan publik atas peran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terhadap eksistensi etnis Tionghoa di Indonesia. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa H Abdul Muhaimin Iskandar pun mencetuskan pendirian Monumen Gus Dur sebagai tonggak spirit pluralisme.
"Di momen Cap Go Meh yang sangat berharga ini, saya mengusulkan agar Kalbar, khususnya Singkawang, kita bersama-sama dapat mendirikan Monumen Gus Dur. Ini sebagai pusat kesadaran kebhinekaan, agar semangat pluralisme dan keadilan semakin menjiwai bangsa Indonesia," ujar Muhaimin saat menghadiri Festival Cap Go Meh Singkawang, Sabtu (23/02/2013) malam.
Pria yang akrab dipanggil Cak Imin punya argumen kuat. Sejarah membuktikan, imbuhnya, Gus Dur adalah pencetus sejarah Imlek di Indonesia. Sehingga ragam budaya Tionghoa diterima secara terbuka seluruh kalangan masyarakat Indonesia.
Monumen Gus Dur dinilai Cak Imin bisa mewakili kenangan sang Guru Bangsa tersebut. Sehingga setiap generasi paham bahwa Indonesia pernah memiliki tokoh besar yang membela yang lemah dan terdiskriminasi. "Gus Dur tampil sebagai pendobrak bagi kelompok minoritas. Karena itu baik NU dan Tionghoa memiliki hubungan batin yang kuat dengan Gus Dur," papar Menakertrans ini.
Cak Imin berharap, penghargaan tersebut diwujudkan secara swadaya masyarakat. Dia pun meminta masyarakat Singkawang serta wakil bendahara DPP PKB Daniel Johan untuk berkoordinasi agar monumen tadi terealisasi.
Gus Dur saat menjadi presiden dengan tegas mencabut Inpres No. 14/1967 lantaran dinilai bertentangan dengan UUD 1945. Sebelum dicabut, selama puluhan tahun Inpres tersebut memasung warga Tionghoa sehingga tak bisa bebas melaksanakan budayanya. Termasuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh secara terbuka.
Mantan Ketua Umum PBNU itu menerbitkan Keppres No. 6/2000 yang menjamin warga Tionghoa dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya secara terbuka.
Tahun 2001, Gus Dur kembali membuat gebrakan dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Untuk pertama kalinya saat itu perayaan Imlek nasional diselenggarakan dan dihadiri Gus Dur selaku Presiden RI.







TERKAIT