Konsisten Rawat Karya KH Hasyim Asy’ari, PKB Kaji Kitab Adabul `Alim wal Muta`allim
PKBNEWS - Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kembali menegaskan jati dirinya sebagai partai berbasis pesantren dengan melanjutkan Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4. Pada kesempatan ini, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy`ari menjadi rujukan utama dalam memperkuat fondasi moral kader partai.
Sekretaris Jenderal DPP PKB, Hasanuddin Wahid (Cak Udin), menegaskan bahwa politik tanpa adab akan kehilangan arah.
“Mencari orang pintar itu banyak. Mencari orang cerdas itu mudah. Tapi mencari orang beradab itu sulit. Hari ini guru ilmu sangat mudah—ChatGPT, AI, dan teknologi digital tersedia di genggaman. Tetapi guru adab tidak bisa dicari sembarangan. Perlu istikharah, perlu sanad, perlu keteladanan,” tegasnya di kantor DPP PKB, Jl Raden Saleh No. 9 Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
Menurut Cak Udin, di tengah dunia politik Indonesia yang kian kompleks, pragmatis, dan sering kali transaksional, PKB memilih kembali kepada warisan ulama sebagai kompas perjuangan.
Ada dua alasan utama PKB terus mengkaji karya Mbah Hasyim. Pertama, sebagai bentuk kecintaan dan komitmen intelektual terhadap karya-karya beliau. PKB ingin seluruh kadernya layak disebut sebagai santri Hadratusyaikh—bukan hanya secara historis, tetapi secara nilai dan perjuangan.
Kedua, sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga dan membesarkan karya terbesar Mbah Hasyim, yakni Nahdlatul Ulama. Bagi PKB, merawat NU bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan tanggung jawab ideologis.
“Sepelik apa pun dunia politik Indonesia, kita masih punya kendali. Kendali itu adalah kitab kuning karya para ulama. Dan NU itu adalah kitab kuning terbesar Mbah Hasyim. Itulah pemandu kita. Tidak banyak partai politik yang menjadikan kitab kuning sebagai arah perjuangan,” ujarnya.
Kajian ini dibuka dan dipandu langsung oleh KH. Fahmi Amrullah Hadziq, cucu langsung Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, memperkuat sanad keilmuan sekaligus ikatan historis PKB dengan pesantren.
Digelar secara hybrid, kegiatan ini diwajibkan bagi seluruh anggota DPRD, kepala daerah dari PKB, serta kader di berbagai tingkatan. Tujuannya jelas: memastikan bahwa setiap kader yang berada di ruang kekuasaan tetap memiliki pemandu moral.
Di tengah bisingnya politik nasional dan derasnya arus teknologi, PKB menegaskan satu sikap: ilmu penting, tetapi adab lebih utama. Dan bagi PKB, kitab kuning adalah kompas yang menjaga arah perjuangan tetap berada di rel keumatan dan kebangsaan.
Sementara sejumlah tokoh akan membalah kitab itu, yaitu KH. Said Aqil Siroj, KH. Yusuf Chudlory, Nyai Hj Badriyah Fayumi, KH. Abdussalam Sohib, DR KH. Maman Imanulhaq, DR Nyai Hj Hindun Anisah, KH. Ahmad Badawi Basyir, DR KH Ahmad Kafabih, KH. Jazim Hamidi, KH. Muhammad Nur Hayid, Nyai Hj Siti Haniatunnisak, dan Gus Vaeiz Muhammad Mirza.







TERKAIT